Latest Post

DASAR-DASAR PENDIDIKAN BUDDHIS Part 1

A. Pendahuluan
Pendidikan, yang merupakan salah satu pranata sosial yang penting bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang demokratis, harus diberdayakan bersama-sama dengan pranata hukum, pranata sosial-budaya, ekonomi dan politik. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa pranata pendidikan masih terlalu lemah sehingga kurang mampu membangun masyarakat belajar. Masyarakat belajar ditandai dengan besarnya perhatian dan partisipasi semua komponen masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu gerakan rekonstruksi sosial. Akibatnya, persoalan-persoalan kemasyarakatan yang muncul, seperti disintegrasi sosial, konflik antaretnis, kekerasan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pola hidup konsumtif tidak dapat segera ditangani secara tuntas. Oleh sebab itu, untuk saat ini dan masa yang akan datang perlu dibangun dan dikembangkan sistem pendidikan nasional atas dasar kesadaran kolektif bangsa dalam rangka ikut memecahkan berbagai masalah sosial yang dihadapi bangsa Indonesia
Menyikapi beratnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ke depan dan tajamnya persaingan antar bangsa-bangsa di dunia, bidang pendidikan menempati posisi yang amat strategis dan mutlak perlu mendapatkan porsi perhatian yang lebih besar dan lebih serius daripada sebelumnya. Ini mendesakkan perlunya perubahan undang-undang pendidikan yang mampu menjadi landasan dan pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan nasional yang bersifat komprehensif.
B. Paradigma Pendidikan
Pendidikan pada dasarnya bersifat terbuka, tidak ada yang disem­bu­nyikan (D.III.100). Buddha me­nyangkal adanya otoritas sego­long­an masya­rakat tertentu, yakni kasta brahmana, yang memonopoli ke­wenangan agama dan bersifat diskriminatif. Pandangan egalitarian yang melihat semua orang sede­rajat ini, membuat Buddha menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Ia mem­bentuk suatu struktur monas­tik yang dinamakan Sangha, menampung murid dari berbagai go­longan ma­syarakat. Jelas pendidikan dalam agama Buddha tidak me­miliki watak feodalistik, melainkan komu­nalistik. Peng­hargaan terha­dap manusia ditentukan oleh tingkat prestasi, bukan karena status sosial ekonomi dan faktor primordial. Seperti kata Hui-Neng, Pa­triarch VI: Orang utara mungkin berbeda dengan orang selatan, tetapi pencerahan tidaklah berbeda di kedua tempat itu.         
Landasan Filosofi pendidikan dalam agama Buddha mengacu pada em­­pat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani), yaitu mengidenti­fika­si dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan meng­akhiri du­kkha. Lewat formulasi ini Buddha memberi petunjuk bagai­mana sebaik­nya mengatasi masalah secara sistematis. Berdasar rumusan Empat Ke­be­naran Mulia Kowit Vorapipatana mengembangkan kon­sep Khit-Pen yang artinya ‘berpikir, mengada’ (to think, to be) atau ‘mampu ber­pikir’ (to be able to think) untuk menggambarkan strategi peng­ajaran yang mencakup berpikir secara kritis dan kecakapan me­me­cahkan masalah.
Kepada Bharadvaja Buddha mengajarkan bahwa bagi orang pan­dai tidaklah cukup me­lindungi kebenaran dengan membuat ke­sim­pulan: hanya ini saja yang benar dan lainnya keliru (M. II. 171). Se­ba­gai agama yang universal, ajaran Buddha menghargai pluralisme, dan tidak bersifat eksklusif.
Buddha tidak meng­hendaki pendi­dikan yang menghasilkan seba­risan orang buta yang saling me­nuntun (M. II. 170). Kepada suku Ka­la­ma, Buddha meng­anjurkan agar tidak segera percaya terhadap suatu ajaran, apakah itu berupa tradisi hingga yang tertulis dalam kitab suci sekalipun, sebe­lum diselidiki sendiri benar (A. I. 191). Buddha sangat menghargai kebebasan berpikir. Karena itu pen­didikan dalam per­spek­tif agama Buddha tidak bersifat otoriter, melainkan bersifat de­mokratis. Bah­kan Buddha tidak menginginkan adanya keter­gantung­an kepada diri-Nya, dan tidak menunjuk peng­gan­ti sebagai pemegang otoritas setelah Ia parinirwana (D. II. 100).
Perbedaan pendapat merupakan suatu kewajaran. Menghadapi kri­tik, Buddha mengajarkan untuk menilai sejauh mana kritik itu benar atau salah, dan hendaknya tidak merasa tersinggung karena kema­rahan akan menghalangi perjalanan mencapai kebebasan. Mengha­dapi pujian, tidak merasa puas atau bangga, tetapi juga harus menilai kebenarannya berdasarkan fakta (D. I. 3)  Sikap Buddha sangat ob­jek­­tif, bahkan terhadap diri-Nya sendiri. Seperti yang ditun­jukkan da­lam percakapan dengan Sa­riputra. Sang murid mengatakan bahwa ia ya­kin, tidak ada orang yang melebihi kesempurnaan Buddha Gotama. Buddha bertanya, apakah Sariputra mempunyai pengetahuan lang­sung tentang diri-Nya, tentang semua Buddha di masa lampau, atau Buddha di masa depan. Jawab Sariputra, tidak. Lalu apa dasarnya Sariputra berani membuat kesimpulan seperti  itu? (D.II. 82).   
Dharma yang diajarkan oleh Buddha mengundang untuk dibuk­tikan, disebut ehipassiko, artinya ‘datang dan lihat’ (A. III. 285). Ka­rena itu pendidikan memberi tempat yang seluas-luasnya pada pengu­jian, pemahaman yang rasional, dan pengalaman empiris. Da­lam prak­­­tiknya orientasi pen­di­dikan harus pada proses. Suatu proses pada dasarnya merupakan rangkaian sebab dan akibat. “Se­seorang yang melihat sebab-akibat, melihat Dharma” (M.I.191).
C. Pengertian dan Dasar Filosofis Pendidikan Buddhist
Pendidikan berasal dari istilah sikkha (latihan), tersirat bahwa pendidikan merupakan proses belajar, latihan pelajaran, mempelajari, mengembangkan dan pencapaian penerangan (Butr-Indr, 1979). Pada isitilah ini termasuk juga disiplin moral (síla), konsentrasi (samadhi), dan pengetahuan atau kebijaksanaan (pañña) (A.I.231). Demikian proses secara terus-menerus dari perhatian pendidikan sebagai sifat fungsional  dari latihan, praktek, dan kemajuan setahap-demi setahap (anupubbasikkha anupubbakiriyä anupubbapaëipadä).
Selama empat puluh lima tahun Sang Buddha membabarkan jalan pembebasan. Beliau dikenal sebagai guru para dewa dan manusia (sattha devamanussanam) dan pernbimbing manusia. Disiplin moral (síla), meditasi (samadhi) dan kebijaksanaan (pañña) yang dicapai berdasarkan perealisasian keadaan sebenarnya dan kehidupan merupakan dasar dan Jalan yang diajarkan beliau. Hal ini dihubungkan belajar seumur hidup dan meditasi yang ditujukan pada latihan dan mengendalikan pikiran (batin).
Masalah sentral dalam pandangan Buddha adalah penderitaan ma­nusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha). Keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang men­da­huluinya. Dalam merumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasa­muppada), Buddha menempatkan di urutan pertama kebodohan (avijja). “Yang lebih buruk dari se­mua noda itu adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Para Bhikkhu, singkir­kan noda ini dan jadilah orang yang tak bernoda” (Dhp. 243).
Agama Buddha memandang bahwa kebodohan merupakan akar penyebab penderitaan dan menyebabkan pikiran yang tidak berkembang menjadi gangguan pencapaian kedamaian, maka seseorang harus menekankan dalam hidupnya untuk mengembangkan mental dan proses pendidikan agar tujuan mulianya tercapai.


 

Karma-Karma berat (Garuka kamma)


1.      Menurut Sifat Hasilnya (Pakadanapariyaya Catuka) Golongan dari Kamma ini dapat dibagi 4 (empat) jenis:
                          i.      Garuka Kamma, adalah Kamma yang berat. Akibatnya dapat timbul dalam waktu Satu kehidupan atau kehidupan berikutnya. Garuka-Kamma dalam Ditthigatasampayutta-Citta yang berkenaan dengan Niyatamicchaditthi-Kamma, dan Dosamula-Citta yang berkenaan dengan Pancanantatariya-kamma serta Mahagatakusala-kamma 9 (Rupakusala 5 dan Arupa Kusala 4), jumlahnya 15 Citta. Mengenai Lokuttarakusala-Kamma juga disebut Garuka-Kamma. Tetapi disini tidak dibicarakan mengenai Lokuttarakusala, sebab Lokutarakusala itu tidak mempunyai tugas menimbulkan; tetapi mempunyai tugas membasmi penimbulan itu sesuai dengan kemampuan diri scndiri. Disini kita akan membiearakan Garuka-Kamma yang mampu menimbulkan hasil/akibat dalam kehidupan ke 2, yang Kamma lain tidak mampu untuk mencegahnya.

Niyatamicchaditthi-Kamma berarti pandangan salah, yaitu yang tidak dapat mclihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajamya, atau menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan, dan kesalahan sebagai kebenaran.
Pandangan yang salah adalah: Tidak murah hati; Tidak mengerti faedah berdana; Tidak memberi hadiah pada tamu; Perbuatan baik/jahat dianggap tidak ada hasilnya; Tidak percaya pada dunia ini; Tidak percaya pada dunia yang akan datang (kehidupan lalu atau sekarang); Tidak mengerti fungsi seorang ibu; Tidak mengerti fungsi Ayah; menganggap tidak mcmbawa akibat apapun yang dilakukan; Tidak percaya adanya makhluk yang mati atau dilahirkan kembali; Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk para Buddha/Arahat).
Pancanantariya-Kamma berarti lima perbuatan durhaka/salah atau pcrbuatan buruk yang menyebabkan kelahiran kembali di Nirayabhumi. Lima perbuatan durhaka/celaka tersebut adalah:
a.       Matughata:  Membunuh ibu.
b.      Pitughata:  Membunuh Ayah.
c.       Arahantaghata: Membunuh Arahat.
d.      Lohittupada: Melukai Buddha.
e.       Sanghabheda: Memecah-belah Sangha.
Harapan supaya dapat menghindari lima perbuatan terburuk itu, panjatkan selaluParitta ini:
Pancanantariyam Kammam, Pancaduccaritam Pica, Manasa ’Pi Na Cint'eyyam Sabba Kalam '1to Parang
Artinya:
Lima Perbuatan Durhaka Juga Lima Kejahatan Melanggar Pancasil.A Semoga Tidak Akan Kulakukan Sekalipiin Hanya Dalam Pikiran
Buddha Bersabda: ”lima jenis orang-orang berangan dan celaka yang terjerumus jalan menuju neraka, duhai para sisvva, lima jenis yang bagaimana? Pembunuh Ayah sendiri. pembunuh Ibu sendiri. pembunuh seorang Arahat, yang melukai seorang Buddha dengan maksud jahat dan pemecah-belah Sangha” (A.v.129).
Buddha menjawab pertanyaan Ananda: ”Apakah akibat yang akan diderila oleh orang yang memecah-belah Sangha. duhai Bhante? Hukumnya selama satu kalpa, Ananda. Hukum apakah yang diderita selama satu kalpa itu, Duhai Bhante? Selama satu kappa itu, ia menderita siksaan-siksaan dalam alam neraka” (A.x.38).
(1 kalpa = 4,320.000.000 tahun).
Akusala-Garuka-Kamma adalah Niyatamicchaditthi-Kamma dan Pancanantariya-Kamma. Akusala-Garuka-Kamma ini mampu menimbulkan hasil/akibat dalam kehidupan ke 2 dan tumimbal-lahir di apayabhumi. Maksudnya siapapun melakukan Niyatamicchaditthi-Kamma dan Pancanantariya-Kamma dalam kehidupan sekarang ini, setelah kcmatiannya didunia ini akan tumimbal-lahir di apayabhumi dengan pasti. Kusala-Garuka-Kamma adalah Mahaggata-Kusala-Kamma 9, yaitu Rupa-Kusala 5 dan Arupa-Kusala 4. MahaggatakusaIakamma 9 dimaksudkan bagi mereka yang mempunyai Jhana, disebut Jhana 8 atau 9. Kusala-Garuka-Kamma juga mampu menimbulkan hasil/akibat dalam kehidupan ke 2 dan tumimbal-lahir di alam Brahma 20 (Rupa-Bumi 16 dan Arupa-Bumi 4). Maksudnya siapapun yang mempunyai Jhana dalam kehidupan sekarang ini, setelah kematiannya akan tumimbal-lahir di alam Brahma. Kusala-Garuka-Kamma adalah melakukan. Perbedaan  dalam  menirnbulkan  hasil/akibat  antara  Akusala-Garuka-Kamma  dengan Kusala-Garuka-Kamma adalah: Akusala-Gamka-Kamma, bila tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat, tetapi mempunyai kesempatan untnk menjadi Upatthambhaka-Kamma. Kusala-Garuka-Kamma, bila tidak ada waktu menimbulkan hasil/akibat, akan menjadi Ahosi-Kamma (yang tidak menimbulkan akibat sama sekali)  dan tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka-Kamma.
2.      Asañña Kamma, adalah perbuatan baik dan jahat yang dilakukan oleh scseorang, sebelum saat ajalnya, perbuatan dapat dilakukan dengan lahir dan batin.
Asañña-Kamma adalah Akusala-Kamma 12 (tidak termasuk Niyatamicchaditthi-Kamma dan Pancanantariya-Kamma dan Mahakusala-Kamma 8. Mahaggatakusala-Kamma tidak termasuk Asañña-Kamma, karena telah menjadi Garuka-Kamma. Akusala-Kamma-atau Kusala-Kamma yang pemah kita perbuat sudah lama tidak teringat lagi. Bila sewaktu akan meninggal dunia terkenang dengan perbuatan jahat yang pernah diiakukan, saat itu Akusala-Citta (pikiran jahat) timbul, Akusala-Citta yang timbul melalui teringatnya dengan perbuatan jahat disebut Akusala-Asañña-Kamma. Jika terkenang perbuatan baik yang pernah dilakukan saat itu Kusala-Citta (pikiran baik) timbul. Kusala-Citta yang timbul melalui teringatnya perbuatan baik itulah disebut Kusala-Asañña-Kamma.
3.      Acinna Kamma atau Bahula Kamma adalaii Kamma kcbiasaan, ialah perbuatan yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena sering dilakukan sehingga seolah-olah merupakan watak baru.
Acinna-Kamma adalah Akusala-Kamma 12 dan Mahakusala 8. seseorang yang sering melakukan kejahatan dengan jasmani. perkataan dan pikiran inilah disebut Kusala-Acinna-Kamma. Bila seseorang yang sering melakukan kebaikan, misalnya suka berdana, melaksanakan sila, suka bcrmeditasi, belajar Dhamma dan lain-lainnya disebut Kusala-Acinna-Kamma. Seseorang melakukan salah satu kejahatan, walaupun hanya sekali saja, tetapi orang itu selalu memikirkan perbuatan jahat itu, kemudian timbul kegelisahan danketakutan, disebut Akusala-Acinna-Kamma, dalam melakukan kebaikan sama juga, walaupun melakukan kebaikan hanya sekali saja, tetapi selalu diingat dengan perbuatan baiknya, kemudian timbul rasa senang, gembira dan bahagia atas perbuatan baiknya itu, disebut Kusala-Acinna-Kamma.
4.      Katata Kamma, adalah Kamma yang tidak begitu berat dirasakan akibatnya dari perbuatan-perbuatan yang lampau.
Katata-Kamma adalah Akusala-Kamma 12 dan Mahakusala-Kamma 8. Kusala-Kamma dan Akusala-Kamma yang pernah dipcrbuat dalam kehidupan lampau dan kehidupan sekarang ini yang belum mencapai Garuka-Kamma, Asañña-Kamma dan Acinna-Kamma, tetapi si pembuat tidak melakukan dengan kehendak sepenuh hati, inilah disebut Katata-Kamma. Katata-Kamma adalah Kamma yang tidak begitu berat jika dibandingkan dengan Garuka-Kamma, Asañña-Kamma dan Acinna-Kamma.
2.      Menurut Kedudukkannya (Pakatthanacatukkha). golongan ini dibagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu:
                          i.      Akusala kamma berarti perbuatan jahat, yang dimaksudkan adalah cetana (kehendak) yang berada dalam akusalacitta 12. Akusala kamma dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu:
a)      Akusalakaya kamma yang berarti perbuatan jahat dari jasmani meliputi: Pembunuhan (panatipata), pencurian (adinnadana), perbuatan asusila (kamesumicchacara).
b)      Akusalavaci kamma yang berarti perbuatan jahat dari perkataan yang meliputi: Berdusta (musavada), fitnah (Pisunavaca), bicara kasar (phasunavaca), berbicara hal-hal yang tidak perlu/omong kosong (samphappalapa).
c)      Akusalamano kamma yang berarti perbuatan jahat dari pikiran meliputi: nafsu lobha (abhijjha), mendendam/kemauan jahat (byapada). pandangan salah (miccha ditthi).
                        ii.      Kamavacarakusala kamma: perbuatan baik disertai kesenangan, adalah cetana yang berada dalam mahakusala 8. Kamavacarakusala kamma dibagi dalam 3 (tiga) macam.
a)      Kusalakava kamma berarti perbuatan baik dari jasmani, dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu: Panatipata Veramani (menjauhkan diri dari pembunuhan). Adinadana Veramani (menjauhkan diri dari pencurian), Kamesumicchacara Veramani (menjauhkan diri dari pcrzinahan).
b)      Kusalavaci kamma, perbuatan baik lewat ucapan, dibagi menjadi empat bagian yaitu: Musavada Veramani (menjauhkan diri dari perkataan dusta), Pisunayavacaya Veramani (menjauhkan diri dari memfitnah), Pharusayavacaya Veramani (menjauhkan diri dari bicara kasar), Samphapalapa Veramani (menjauhkan diri dari bicara yang tidak perlu/omong kosong).
c)      Kusalamano kamma, yaitu perbuatan baik melalui pikiran, dibagi 3 (tiga) bagian, yaitu: Anabhija (tidak serakah), Abyapada (tidak mempunyai kemauan jahat), Sammaditthi (mempunyai pandangan benar).
                      iii.      Rupavacarakusala Kamma, yaitu perbuatan baik yang mencapai Rupa Jhana. Yang dimaksud disini adalah Cetana (kehendak) yang berada dalam Rupakusala Citta 5.
                      iv.      Arupavacarakusala Kamma, berarti perbuatan baik yang mencapai Arupa Jhana. Yang dimaksudkan disini adalah Cetana (kehendak) yang berada dalam Arupakusala Citta 4.

 

Puasa Dalam Agama Buddha (Uposatha)


Kebiasaan menjalankan Uposatha ini, telah ada sebelum jamannya Sang Buddha. Sang Buddha menyetujui kebiasaan tersebut dan memperaktekannya untuk dipergunakan sebagai hari untuk bertemu bersama, membicarakan dan mendengarkan Dhammaserta merupakan kesempatan untuk melaksanakan Uposatha bagi umat awam (Atthanga Uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengijinkan mereka melakukan Uposathasilapada tanggal 1 dan 15 pada penanggalan bulan (Subalaratano, Bhikkhu. 1988: 28)

Peraturan latihan khusus yang dilakukan pada hari Uposatha ini disebut Atthangika-uposatha(uphosatha dengan delapan unsur) bagi gharavasa dan atthanga-samana-uposatha (delapan unsur uposatha pada samana). Atthangika uposatha dalam kehidupan sehari-hari untuk mempermudah pengucapannya disebut atthangasila. Istilah uposathaatau atthangasila tidak terdapat dan tidak disebut sebagai sila dalam kitab Tipitaka. Bagian pertama sampai dengan kelima dari atthangika uposathaadalah sila, sedangkan yang ke-enam (vikalabhojana) sampai kedelapan adalah peraturan-pelatihan. Atthangika uposathamerupakan peningkatan dari pancasiladengan menambah tiga peraturan-pelatihan tambahan.
Di berbagai negara buddhis, para umat biasa menjalankan delapan sila pada hari-hari tertentu, seperti pada bulan purnama dan bulan mati. Para umat akan datang ke vihara subuh-subuh dan melewatkan dua puluh empat jam dalam vihara, menjalankan sila (Dhammananda. 2005:236).
Kegiatan ibadah bersama pada masa dewasa ini masih sering dilakukan  pada hari minggu atau hari-hari lain menurut kenginan umat. Kegiatan Uposathamasih tetap dilakukan pula pada hari-hari raya yang jatuh di saat bulan purnama, seperti hari Waisak. Sedangkan kegiatan formal Uposatha bagi para Bhikkhu  adalah membaca pathimokha, aturan-aturan pokok kebhikkhuan (Vin. 1,102). Pembahasan atau pembabaran Dhamma dilakukan setiap Uposatha, tetapi pembacaan patimokha dilakukan sekali dalam setengah bulan, yaitu dihari ke-14 atau ke-15 (Vin, I.104) semua peraturan itu  berhubungan dengan latihan yang bermanfaat untuk mengembangkan sila, Samadhi, dan panna.(A. I, 231).
Kegiatan Uposatha juga dapat dilakukan dengan Pindapatta bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni, Pindapattaadalah cara para Bhikkhu berkeliling untuk mendapatkan dana makanan. Dimana setiap pagi jam 06:00 Wib atau pada hari-hari tertentu, para bhikkhu atau bhikkhuni berjalan atau berkeliling dari desa ke desa untuk mendapatkan dana makanan dari perumah tangga (Gharavasa). Para umat memasukan dana makanan ke dalam mangkok (Patta) yang dibawa oleh para Bhikkhu dan Bhikkhuni (Kusaladhamma, 2007:337).
Adapun upavasa(uposatha atthasila) yang dijalankan oleh umat Buddha adalah:
1.      Bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
2.      Bertekad akan melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan.
3.      Bertekad akan melatih diri menghindari berhubungan seks.
4.      Bertekad akan melatih diri menghindari berbicara atau berucap yang tidak benar.
5.      Bertekad akan melatih diri menghindari segala makanan dan minuman yang dapat melemahkan kesadaran.
6.      Bertekad akan melatih diri menghindari makan setelah tengah hari.
7.      Bertekad akan melatih diri menghindari menyanyi, menari, bermain musik, pergi melihat hiburan, memakai bunga-bungaan, wangi-wangian, serta alat-alat kosmetik yang bertujuan untuk memperindah atau mempercantik diri.
8.      Bertekad akan melatih diri menghindari pemakaian tempat tidur dan tempat duduk yang mewah.
Sumber :
1. Subalaratano, Bhikkhu. Pengantar Vinaya. Jakarta: Sekolah tinggi Agama Buddha Nalanda.
2. Kusaladhamma, Bhikkhu. 2007. Kronologi Hidup Buddha. Jakarta: Yayasan Karaneya.
3. Dhammananda,Sri. Keyakinan Umat Buddha. Jakarta: Yayasan Karaneya
4. Rashid, Teja. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Budhis Bodhi.
5. The Book Of The Gradual Sayings (Anguttara Nikaya) Vol.I. Terjemahan Woodward,F.L. 1982.
    London: The Pali Text Society
6. The Book Of The Gradual Sayings (Anguttara Nikaya) Vol.I. Terjemahan Woodward,F.L. 1982.
    London: The Pali Text Society
 

Mudra dalam Agama Buddha

Mudra adalah simbol tangan yang digunakan ketika sedang membacakan Mantra. Biasanya Mudra digunakan oleh Vihara Tantrayana.









 

Cara Meditasi yang Benar

Hai Sobat para praktisi meditasi, Apakah posisi duduk kalian sudah benar? apakah sudah merasa benar tapi Ragu-ragu. disini saya akan berbagi bagimana posisi meditasi yang benar. karena awal dari meditasi adalah posisi duduknya.
Sebelumnya yuk cek Pengertian dari meditasi :
Meditasi adalah pemusatan pikiran, dinamakan juga konsentrasi. Memusatkan pikiran pada satu obyek inilah yang disebut Samadhi. Samatha Bhavana Yaitu Meditasi ketenangan batin. Meditasi dengan memusatkan pikiran pada satu obyek hingga pikiran terpusat, menjadi tenang dengan mencapai Rupa Jhana dan Arupa Jhana.











 

Upasampada


UPASAMPADA : Penahbisan untuk menjadi seorang bhikkhu/bhikkhuni, yg terdiri dari :
1.                 EHI BHIKKHU UPASAMPADA
Penerimaan menjadi bhikkhu yg dilakukan SB sendiri dg menyatakan :”Ehi Bhikkhu, svakkhato dhammo cara brahmacariyam samma dukkhassa antakiriyaya” artinya “Marilah bhikkhu, Dhamma telah diajarkan dg sempurna, jalanilah cara hidup suci untuk mengakhiri semua dukkha”. (Vinaya Pitaka I,12). Cara ini pertama kali dilakukan kpd 5 orang pertapa (assaji, Mahanama, Vapa, badhiya, dan Kondanna)
2.                 TISARANAGAMANA UPASAMPADA
Penerimaan menjadi bhikkhu dg pernyataan berlindung kpd Sang Triratna oleh calon bhikkhu. Cara ini pertama kali dilakukan kpd 60 siswa arya SB.
3.                 NATTI-CATUTTHAKAMMA UPASAMPADA
Penerimaan bhikkhu yg dilakukan oleh Sangha (min 5 bhikkhu) di Sima (Suatu tempat dg batas yg telah ditentukan). Cara ini ditetapkan SB setelah agama Buddha telah berkembang dan banyak orang ingin menjadi anggota Sangha.

Terdapat 4 syarat yg harus dipenuhi untuk pelaksanaan Upasampada :
1.Vatthu-sampati (Kesempurnaan materi atau calon) :Manusia, berusia min 20 th, tidak cacat tubuh,tidak dikenai  kriminal,tidak melanggar parajika (ketika menjadi bhikkhu sebelumnya)
2.Parisa-sampati (Kesempurnaan Sangha) : Jumlah bhikkhu min 5 orang sesuai dg jumlah yg ditetapkan Sangha dan terdapat bhikkhu sbg upajjhaya.
3.Sima-sampati (Kesempurnaan Sima) :Sima adalah lokasi yg mempunyai batas tertentu yg ditetapkan oleh vinaya. Upasampada dilakukan dalam Sima. Bhikkhu yg tidak terlihat berada dg jarak 1 hasta dari bhikkhu lain.
4.Kammavaca-sampati (Kesempurnaan Pernyataan) :Kesempurnaan pengusulan (Natti), pengumuman (Anusavana). Seorang calon bhikkhu diusulkan oleh upajjhaya dan diumumkan  bahwa calon tsb diterima menjadi bhikkhu tanpa ada yg keberatan.
Peraturan yg menonjol untuk para Bhikkhuni/bhikshuni adalah : Delapan Garudharma (peraturan keras)  dan Parajika 8 (delapan). Untuk peraturan Bhikshuni Mahayana terdapat dalam Bhiksuni Sanghika-Vinaya Pratimoksha Sutra yg diterjemahkan oleh Fa Hsien pada tahun 418 M. Untuk Vinaya Bhikkhuni (Theravada) terdapat dalam kitab Vinaya Pitaka bagian Cullavagga X.
Delapan (8)  persyaratan keras (Garudhamma) menjadi seorang bhikkhuni  :
1.   Meskipun telah ditahbiskan selama 100 tahun, ia harus menghormati seorang bhikkhu yg baru saja ditahbiskan.
2.   Tidak boleh bervasa di tempat yg tak ada bhikkhu.
3.   Setiap ½ bulan harus memohon nasehat dan teguran.
4.   Setelah bervasa harus meminta teguran dan peringatan ttg apa yg dilihat, didengar dan dicurigai (mengenai dirinya).
5.   Bagi yg melanggar vinaya menjalani hukuman (Manatta) selama ½ bulan di Sangha bhikkhu/i.
6.   Setelah menjalankan masa percobaan selama 2 tahun, harus mohon ditahbiskan jadi seorang bhikkhuni.
7.   Tidak boleh memarahi bikkhu.
8.   Tidak boleh memberi peringatan kpd seorang bhikkhu
10 Vinaya kecil antara lain :
1.   Tidak menerima emas/perak (uang).
2.   Tidak makan bial tidak diundang/dipersilahkan.
3.   Tidak makan pada sore hari sampai keesokan paginya.
4.   Tidak menyimpan garam dan mencampur dalam makanan.
5.   Tidak minum selewat waktu yg ditentukan
6.   Tidak minum yg dimuaikan.
7.   Tidak melakukan Uposatha-kamma.
8.   Tidak ber-Uposatha-kamma yg terpisah dlm vihara besar.
9.   Tidak menggunakan Nisida (kain untuk bernamskara) yg lebar
10.     Tidak mengikuti pendiksa dlm upacara tradisi kuno apapun.

 

Metode Pembelajaran


1.metode Proyek
a. kelebihan
1)      dpt memperluas pemikiran siswa yg berguna dlm menghadapi mslh khdpn
2)      dpt membina siswa dgn kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dlm khdpn sehari*.
3)      Metode ini sesuai dgn prinsip* didaktik modern yg dlm pengajaran perlu diperhatikan
b.Kekurangan
1)      Kurikulum yg berlaku di ina saat ini baik scr vertikal maupun horizontal blm menunjang pelaksanaan metode ini.
2)      Pemilihan topik unit yg tepat sesuai dgn kebutuhan siswa ckp fasilitas dan sumber* bljr yg diperlukan bkn mrpk pekerjaan yg mudah.
3)      Bahan pljrn sering menjadi luar shg dpt mengaburkan pokok unit yg dibahas.

2.metode eksperimen(percobaan): cr penyajian pelajaran dmn siswa melakukan percobaan dgn mengalami dan membuktikan sendiri yg dipelajari.
a. Kelebihan
1)      Siswa lbh percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaanya
2)      Dlm membina siswa utk membuat trobosan baru dgn penemuan dr hsl percobaan dan bermanfaat bg khdpn.
3)      Hsl percobaan yg berharga dpt di manfaatkan
b.Kekurangan
1)      Mtd ini lbh sesuai dgn bdng sain dan teknologi
2)      Memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bhn yg tdk mdh diperoleh dan mahal
3)      Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
4)      Setiap percobaan tdk sll memberikan hasil yg diharapkan
3.metode tugas dan resitasi (penugasan): mtd penyajian guru memberikan tgs tertentu agar siswa melakukkan KBM.
a. Kelebihan
1)      Merangsang siswa utk melakukan aktivitas bljr individual maupun klmpk
2)      Mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru
3)      Membina tanggung jwb dan disiplin siswa
4)      Mengembangkan kreativitas siswa
b.Kekurangan
1)      Siswa sulit terkontrol apakah benar mengerjakan tgs sendr atau org lain
2)      Khuisus untk tgs klmpk tdk jarang yg aktif untk mengerjakan
3)      Tdk mudah memberikan tgs yg sesuai dgn perbedaan individu
4)      Tgs yg monoton dpt menimbulkan kebosanan
4.metode diskusi :siswa dihadapkan kpd suatu mslh yg bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yg bersifat problem matis utk dibahas dan dipecahkan bersama.
a. Kebaikan
1)      Meragsang kreativitas anak dlm bentuk ide, gagasan, dan trobosan baru dlm pemecahan mslh
2)      Mengembangkan, sikap menghargai pendpt org lain
3)      Memperluas wawasan
4)      Membina utk terbiasa musyawarah mufakat
b.Kelemahan
1)      Pembicaraan kadang menyimpang shg memerlukan waktu yg panjang
2)      Tdk dpt dipakai pd klmpk besar
3)      Informasi yg  terbatas
4)      Mungkin dikuasai oleh org yg suka bicara
5.metode sosiodrama:mendramatisasian tingkah laku dlm hub nya dgn mslh sosial.
a. Kelebihan
1)      Melatih utk memahami, mengingat bahan yg didramakan dan menghayati isi cerita
2)      Siswa terlatih utk berinisiatif dan berkreatif
3)      Bakat siswa dpt dipupuk
4)      Kerja sama dpt ditumbuhkan dan dibina
5)      Memperoleh kebiasaan utk menerima dan membagi tanggung jwb
6)      Bhsa lisan siswa dpt dibina menjadi bhsa yg baik
b.Kekurangan
1)      Siswa yg tdk ikut mjd kurang kreatif
2)      Makan waktu banyak
3)      Memerlukan t4 yg luas
4)      Bisa mengganggu kls lain
6.metode demonstrasi :penyajian pljrn dgn meragakan atau mempertujukkan suatu proses situasi, atau benda yg sedang dipelajari baik sebenarnya atau tiruan dan disertai dgn penjelasan.
a. Kelebihan
1)      Pengajaran lbh jls dan konkret
2)      Mudah memahai apa yg dipelajari
3)      Proses pengajaran lbh menarik
4)      Siswa dirangsang utk aktif mengamati menyesuaikan antara teori dan kenyataan
b.Kekurangan
1)      Memerluka ketrampilan guru scr kusus
2)      Fasilitas tdk sll tersedia dgn baik
3)      Demontasi memrlukan kesiapan dan perencanaan yg matang, memerlukakn waktu yg ckp pajng
7.metode problem solving (pemecahan masalah)
a. kelebihan
1)      membuat pendidikan di sklh mjd lbh relefan
2)      dpt membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan mslh scr trampil
3)      mengembangkan kemampuan berpikir siswa scr kreatif
b.kekurangan
1)      memerlukan kampuan dan ketrampila guru dlm menentukan mslh yg tigkat kesulitanya sesuai dgn tingkat berpikir siswa.
2)      Memerlukan waktu yg ckp banyak
3)      Memerlukan berbagai sumber bljr yg merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
8.metode karya wisata: cr mengajar yg dilaksanakan kesuatu t4 atau obyek tertentu diluar sklh utk mempelajari atau menyelidiki sesuatu.
a. Kelebihan
1)      Karya wisata memiliki pemanfaatan lingkungan nyata
2)      Pembelajaran lbh relefan dgn kenyataan
3)      Merangsang kreatifitas siswa
4)      Informasi sbg bahan pengajaran lebih luas dan aktual
b.Kekurangan
1)      Fasilitas dan biaya sulit utk disediakan
2)      Memerlukan persiapan dan perencanaan yg matang
3)      Memerlukkan koordinasi dgn guru serta bidang studi lain
4)      Unsur rekreasi menjadi lebih preoritas dr pd t7an utama studi
5)      Sulit mengatur siswa yg byk
9.metode Tanya jawab :penyajian dlm bentuk pertanyaan yg hrs dijwb
a. kelebihan
1)      pertanyaan dpt menarik dan perhatian siswa
2)      merangsang siswa uk melatih dan mengembangkan daya pikir
3)      mengembangkan keberaniaan dan ketrampilan siswa dlm menjawab dan mengemukakan pendpt
b.kekurangan
1)      siswa merasa takut apa bila tdk bisa menjawab pertanyaan
2)      tdk membuat pertanyaan yg sesuai dgn tingkat berpikir siswa
3)      waktu byk terbuang apa bila tdk biasa menjawab 2 atau 3 pertanyaan
4)      jmlh siswa yg byk waktunya tdk mencukupi utk semua siswa
10.  metode latihan :cr yg baik utk menanamkan kebiasan tertentu
a. kelebihan
1)                        utk memperoleh kecakapan motorik spt menulis, menghafalkan huruf, berhtng dll
2)                        utk memperoleh kecakapan mental
3)                        utk memperoleh kecakapan dlm bentuk asosiasi
4)                        pembentukan kebiasaan yg dilakukan dan menambah ketepan serta kecepatan pelaksanaan
5)                        pemanfatan kebiasan* yg tdk memerlukan konsentrasi dlm pelaksanaan
6)                        pembetukan kebiasan* membuat gerakan* yg komplek, rumit, mjd lebih otomatis
b.kekurangan
1)                        menghambat bakat dan inisiatif siswa
2)                        menimbulkan penyesuaian scr setatis pd lingkungan
3)                        kadang latihan yg dilakukan berulang* membosankan
4)                        membentuk kebiasaan yg kaku krn bersifat otomatis
5)                        dpt menimbulkan verbalisme
11.  metode ceramah :penyajian yg dilakukan guru dgn penuturan atau penjelasan lisan scr langsung terhadap siswa.
a. Kelebihan
1)                        Guru mudah menguasai klas
2)                        Mudah mengorganisasikan t4 duduk atau klas
3)                        Dpt diikuti  jml siswa yg byk
4)                        Mudak mempersiapkan dan melaksanakanya
5)                        Guru mudah menerang pelajaran dgn baik
b.Kekurangan
1)                        Mudah mjd verbalisme
2)                        Yg visual mjd rugi, yg ouditif (mendengar) lebih bisa menerimanya
3)                        Dpt mebosankan bila terlalu lama
4)                        Menyebabkan siswa mjd pasif

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Dassania Suyatno - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger